Sambil Menunggu Tanggapan Official dari STPM Ursula Ende: Ini Tanggapan Pemdes Wangka

(Menanggapi Tanggapan dan Beberapa Masukkan)

Alasan saya menulis judul “Sambil Menunggu Tanggapan Official dari STPM Ursula Ende: Ini Tanggapan Pemdes Wangka” karena saya telah dihubungi pihak STPM melalui nama akun Facebook Jo Nane Emanuel dengan isi pesan “Selamat mlm, bisa minta kontak Atau nmor hp? Pihak STPM ingin klarifikasi soal tulisan saudara ttg STPM yg kkn di Wangka. Makasih. Salam.” Balasan saya: “Mlm saudara saya skg tidak mnggunakan hp. kalau bisa lewat inbox saja e.. atau email saya..” Kemudian saya meberikan alamat email saya. Sampai tulisan ini dipublikasikan saya belum menerima email dari pihak STPM.

Bagi teman-teman pembaca yang belum mengetahui secara pasti awal diskusi ini berlangsung bisa cek link berikut.

klik di sini: Buruknya Komunikasi Pihak STPM Santa Ursula Ende dan Pemerintahan Desa Terhadap Masyarakat 

Pastikan teman-teman membaca hingga selesai terutama tiga poin terakhir.

Di sini saya lampirkan tanggapan Pemdes Wangka

Pemdes 11
Gambar 1

Pemdes Wangka: Sepengetahuan saya (plt.kades)komunikasi antara pemdes dng pihak kampus baik adax.lalu burukx komunikasix dmn?????

Lee Risar: Kae aren Marten (Pemdes Wangka) mungkn benar spt kae katakan bahwa komunikasi antara pemdes dan pihak kampus itu baik. Kalau kae baca lagi tulisan itu khususnya tiga poin dlm pembahasan maka kae mengerti maksud tulisan di atas.

Ini saya lampirkan 3 poin tsbt untuk Pemdes:

Pertama, tidak ada keterbukaan dari dua institusi di atas. Masyarakat desa tidak tahu kalau mahasiswa/i STPM Santa Ursula Ende akan mengadakan KKN di desa mereka. Ini yang merupakan awal dari semua itu. (Komunikasi)

(KAPAN Pemdes Wangka KASIH TAU KE MASYARAKAT BAHWA ADA MAHASISWA YANG AKAN DATANG. Kalau bisa sertakan waktu dan tempat sosialisasi.)

Kedua, tentang cara pemerintahan desa menempatkan para mahasiswa di rumah warga. Tepat pada hari H tiba-tiba ada perangkat desa datang ke rumah warga agar menerima mahasiswa untuk tinggal selama dua bulan. Kira-kira apa alasan rasional tindakan ini? Warga dalam keadaan tidak tahu dan bahkan tidak ada persiapan sama sekali untuk menerima mahasiswa/i ini kok langsung dianjurkan untuk menerima. Tentu sebagai orang tua yang baik mereka menerima mahasiswa/i ini untuk tinggal. Apalagi pada hari yang sama mahasiswa/i ini telah tiba di desa. Ini adalah cerminan tentang buruknya komunikasi terhadap warga.

(KIRA-KIRA APA ALASAN RASIONAL TINDAKAN INI?) Pemdes, kalau ada pemberitahuan dari jauh hari tentu tidak ada aksi tiba-tiba begini dan tentu saja tidak menyulitkan warga kan..?

Ketiga, alasan ekonomi. Biaya ekonomi keluarga saja setengah mati lalu ada penambahan jumlah anggota keluarga dewasa secara tiba-tiba. (Saya ulangi SECARA TIBA-TIBA) Pernahkah pihak STPM Santa Ursula Ende dan pemerintahan desa berpikir sampai di situ? Ini lagi alasannya KOMUNIKASI. Pemdes harus paham bahwa mahasiswa/i yang datang untuk nginap selama 2 bulan, tanpa pemberitahuan awal ini menurut Pemdes itu bagaimana coba? Untuk teman-teman yang menganggap saya hanya bisa gonggong dari jauh, bagaimana tanggapan Anda jika Anda berada di posisi warga? (INI YANG PENULIS SEBUT DENGAN BURUKNYA KOMUNIKASI EFEKTIF.) Tentang kronologinya akan saya jelaskan pada poin berikut.

Jadi Pemdes tolong jawab 3 pertanyaan di atas dengan penjelasan rasional untuk masyarakat paham.

 

Apa jawaban dari Pemdes? Silahkan datang ke kantor Desa. Ini rekamannya dalam gambar 2.

Pemdes 5
Gambar 2

Saya sempat bertanya Pak Pemdes Wangka yang terhormat, saya sama sekali tidak membuang umpan. Saya menyalurkan aspirasi seperti dalam 3 poin di atas. Saya menulis lewat media dan tentu saya menerima tanggapan lewat media. (Pihak STPM juga sudah bersedia memberi tanggapan melalui media). Jika saya ke kantor apakah jawaban yang Pemdes Wangka berikan akan beda dengan jawaban yang akan ditulis Pemdes Wangka di media ini?

 

Namun jawabannya: Silahkan datang ke kantor Desa. Padahal menurut saya tidak menjawabi 3 pertanyaan saya di atas. Semua pertanyaan ini belum dijawab oleh Pemdes Wangka hingga tulisan ini dipublikasi.

Menariknya pemdes membuat postingan dengan screenshot postingan saya dengan captionnya begini: Kapan anda berkomunikasi dengan pihak Pemdes Wangka…???????orang wangka bilang zaa BHO Dhekar Tadhang(jangan gonggong dari jauh).klu kurang puas dng tulisan saya ini selaku Plt.Kades….(marten sear) silahkan datang temui saya di kantor.

Ini rekamannya dalam gambar 3.

Pemdes 6
Gambar 3

Caption ini tidak menjawab 3 pertanyaan rasional dalam tulisan saya malah memakai argumentum ad hominem. (Argumentum ad Hominem maksudnya adalah cara berargumentasi yang keliru dimana orang yang mengemukakan argumentasi yang diserang bukannya argumen itu sendiri). Kalau seandainya pihak Pemdes menjawabi tiga pertanyaan itu maka tidak ada diskusi berlanjut, karena semua sudah mendapat pencerahan to..?

Ada juga komentar-komentar dari teman-teman yang mungkin hanya membaca judul tulisan saja. Apakah teman-teman paham tiga poin itu? Di sini saya menanggapi tulisan Frederick Erick. Eja ini memberi komentar tanpa membaca isi tulisan secara komprehensif. Substansi tulisan saya jelas bahwa ‘komunikasi yang buruk’. Tidakah Erick baca pengantar tulisan itu bahwa saya membahas tentang sejarah KKN juga? (Kenapa Erick menjelaskan lagi tentang KKN ke saya? Ini membuktikan Erick tidak membaca secara komprehensif) Setelah membaca komentarmu, saya bertanya menurut Erick apakah isi tulisan saya tidak rasional begitu? Tentu setelah baca dulu tulisan saya pertama baru eja jawab, klik di sini untuk link tulisan pertama. Terima kasih. Berikutnya komentar Martin Rionaldo bahwa penulis tidak mau melihat orang lain senang? Saya rasa komentar ini terlalu infantil menanggapi tulisan saya terutama tiga poin itu. (ah.. Argumentum ad Hominem lagi..) Tolong saudara Martin yang baik, baca keseluruhan tulisan saya terutama tiga poin itu. Terima kasih. Ini rekamannya dalam gambar 4 dan 5.

Pemdes 1
Gambar 4
Pemdes 3
Gambar 5

 

Kronologi mengapa penulis memberi judul tulisan sebelumnya: Buruknya Komunikasi Pihak STPM Santa Ursula Ende dan Pemerintahan Desa Terhadap Masyarakat.

Awalnya warga tidak tahu kalau mahasiswa akan datang termasuk ketua RT (Sius Sarang) yang saat itu sedang berada di Ende juga tidak tahu apa-apa. Pada tanggal 14 Juli 2018 sore kepala dusun Nggololoe (Tance Mbing) ke rumah warga (Yosep Saki) menyampaikan bahwa dua mahasiswa akan nginap di rumah selama 2 bulan. Yosep Saki memang kaget sekali karena tanpa pemberitahuan dari jauh hari, tiba-tiba saja ada mahasiswa yang akan tinggal di rumahnya selama dua bulan (Saya ulangi lagi e TIBA-TIBA). Ketika saya bertanya mengapa saat itu tidak menolak saja? Jawabannya: “anak, mereka ini seperti kamu jauh dari orang tua dan kami tidak ingin mereka dibiarkan terlantar hanya karena buruknya komunikasi dari pihak kampus dan pemerintahan desa. Mereka kami anggap seperti anak kandung nak..”

Dari jawaban itu tentu Pemdes (KEPALA DESA DAN PERANGKATNYA) akan tahu lah bahwa mereka menyayangi mahasiswa tetapi mereka kecewa dengan cara komunikasi Pemdes dan Kampus. Mengapa penulis menyebut Kampus karena seperti yang disampaikan oleh warga (mereka tidak pernah mendapat informasi dari kedua institusi tersebut). Ini juga menjadi jawaban bagi pertanyaan teman-teman dalam komentar mengapa menyebutkan dua institusi (STPM dan Pemdes) tersebut. Kalau kesalahan hanya Pemdes mengapa harus ada nama STPM? Kenyataan di kampung warga tidak tahu dan belum pernah mendapat informasi KKN jauh hari sebelumnya dari dua institusi itu. Tentu saja Pemdes – waktu itu saya  tahu om Mikel Mingge ‘om kandung saya’ sebagai kepala desa, namun saat ini saya mendistingisikan diri sebagai masyarakat dan pemerintah ‘bukan anak dan om’ – Jadi Pemdes yang saya maksudkan di sini bukan hanya kepala tetapi seluruh perangkatnya.

Menurut saya Pemdes mengenal Yosep Saki orang kampung yang berpendidikan tidak setara dengan Pemdes mereka kan? Kalau Pemdes kurang mengenal warga sendiri nanti ke kampung Nggolole saja dan tanyakan ke Saki apakah semua pernyataan yang ia sampaikan itu fiktif atau fakta? (Menyangkut sampai sekarang Pemdes belum memberi jawaban kapan dan di mana disosialisaikan bahwa para anak kampus akan berkunjung kampung, apalagi kampung kami yang udik itu). Kampung yang belum tersentuh arus listrik pemerintah dan juga air bersih yang belum stabil. Bagi teman-teman atau dua pihak (STPM dan Pemdes) itulah kronologinya. Lalu salahkah penulis menyampaikan keluh-kesah orang-orang lemah yang tidak beruntung itu..?

Teman-Teman Mahasiswa-Mahasiswi Yang Datang Ke Desa Wangka

Teman-teman, saya membaca komentar-komentar kalian namun sepertianya kamu belum memahami substansi dari tulisan pertama saya. Semoga setelah membaca tulisan ini kamu paham e.. Inti dari tulisan pertama itu adalah tiga pokok penting yang bisa saya rangkumkan dalam tiga kata ini teman-teman: “KOMUNIKASI YANG BURUK”. Dalam tulisan pertama, saya tidak pernah mendiskreditkan teman-teman bahkan saya mengapresiasi kehadiran teman-teman dan selengkapnya baca isi tulisan itu, jangan hanya baca judul saja lah nanti yang teman-teman tahu hanya sebatas kepala dari tulisan padahal masih ada organ lain dalam tulisan yang perlu ditelusuri agar mendapatkan pemahaman yang komprehensif.

Tentang ini nanti cek tulisan Blog Ranalino: Membedakan Kritik dan Ungkapan Sakit Hati Bertopeng Kritikan

Teman-teman terkasih, (yang KKN di Wangka dan dari kampus lain yang membaca tulisan ini) sedikit sharing bahwa saya sejak di kampus (salah satu kampus di Flores) selama kuliah, kami (saya) selain  diajarkan berbagai ilmu pengetahuan kami juga diajarkan untuk memberikan suara bagi orang-orang yang tak mampu bersuara/ to be a voice of the voiceless dan menyuarakan kebenaran serta menegakkan keadilan. Berpihak pada orang lemah dan membantu mereka yang sedang membutuhkan pertolongan. Secara pribadi saya tidak tahu apa yang diajarkan di kampus-kampus kalian. Jadi ketika saya menyoroti persoalan komunikasi yang buruk ini, tidak lain adalah keluhan orang-orang kampung yang lemah itu. Namun ketika keluhan orang kampung yang tidak berpendidikan disanggah oleh oleh mereka yang berpendidikan, secara pribadi saya merasa miris. Apakah kebenaran hanya dimiliki orang yang berpendidikan saja?

Demikian untuk teman-teman yang membangun Argumentum ad Hominem. Baca dulu tulisan itu baik-baik dan beri komentar sesuai konteks, karena tiba-tiba saja ada yang menjelmah menjadi dokter jiwa yang memvonis penulis bahwa (sedang) gangguan jiwa, ada yang bilang penulis sebagai orang berdosa yang harus bertobat, kuper, saya punya orang tua tidak ada Lombok dan Garam lah pokoknya macam-macam. Saya sangat mengapresiasi komentar yang berfariasi seperti ini karena mewarnai komentar lain dari orang-orang muda yang ‘berpikiran dewasa’.

Sampai di sini dulu pembahasan dari penulis sebagai penyambung suara orang kampung. Penulis masih menunggu 3 jawban rasional dari Pemdes agar penulis sampaikan kepada orang-orang kampung.

Salam.***

Lee RisarOrang kampung asal Wangka

Ilustrasi foto: Nusantara News

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: