Bantang na tala – Nuwa na wulan

(Doa Ulang Tahun Dalam Bahasa Daerah Riung Barat –  Marongglea)

Dari ribuan ucapan salam dan berkat teman-teman Facebook di mana saya tidak bisa membalasnya satu persatu ada satu kalimat yang membuatku baca berkali-kali yakni ‘Bantang  na tala – Nuwa na wulan’ yang ditulis om Tan Sarong dengan nama Facebooknya – Kaytanus Sambi. Sebelumnya saya ucapkan limpah terima kasih untuk semua salam dan doa, bahkan ada doa agar saya cepat mengakhiri masa jomblo dan memiliki pacar. Ah.. kamu ini.

‘Bantang na tala – nuwa na wulan’ adalah ungkapan doa adat dalam bahasa daerah Riung Barat yang memiliki kedalaman makna yang memintaku untuk menyelam dan memahami perlahan. Meskipun saya dilahirkan di Wangka namun saya sangat memahami maksud dari doa tersebut. ‘Bantang  na tala – nuwa na wulan’ sebenarnya doa agar memiliki umur yang panjang seperti jarak bumi dan bintang serta bertumbuh setinggi bulan. Orang Nampe (Riung Barat – Marongglea) menyebut doa ini sebagai Pintu Manuk bukan Pintu Pazir, tentu bagi orang yang pernah mendengar atau bergelut dengan pembicaraan adat Riung Barat akan mengafirmasi pernyataan ini karena Pintu Manuk dan Pintu Pazir itu sangat distingtif. Saat liburan saya kemarin di daerah ini saya sempat berdiskusi tentang hal ini. Ada yang memberi tanggapan bahwa tidak semua doa adat di Riung Barat itu disebut Pintu Pazir sebagaimana pernah dipopulerkan dalam bukunya Berto Bolong (Tuhan dalam Pintu Pazir). Mengapa? Karena Pintu Pazir lebih mengarahkan pada doa pembersihan atau penyucian sedangkan Pintu Manuk adalah doa yang mengarah pada berkat dan syukur.

Kembali pada kalimat ‘bantang na tala – nuwa na wulan’ ini menurut saya sangat baru dan menusuk kesadaran saya untuk tidak boleh melupakan adat dan tradisi, walaupun sebenarnya ungkapan ini sejak zaman para leluhur. Mungkin om Tan (Kaytanus Sambi) saat merapalkan doa ini begitu tulus dan mengalir dari dalam hati untuk saya anaknya yang jauh di seberang lautan dan hidup di sebuah tanah asing agar aku tetap sehat dan memperoleh umur yang panjang dan di saat yang sama secara tidak langsung beliau mengingatkan saya untuk tidak boleh melupakan dari mana saya berasal. Ada yang pernah bilang orang yang beradat itu beradab kalau yang tidak punya adat itu biadab. Nah, mungkin om Tan ingin menitipkan pesan untuk saya agar jangan jadi anak biadab atau frater biadab sehingga kelak tidak menjadi imam yang biadab pula. Ini sebuah tafsiran saja, ya tafsiran.

Baca jugaTata Perkawinan Adat Wangka (Riung)

Membaca bantang na tala – nuwa na wulan’ saya teringat akan film Stardust 2007 lalu ketika pada bagian awal film seorang pria berkata “A philosopher once asked, “Are we human because we gaze at the stars, or do we gaze at them because we are human?” Pointless, really… “Do the stars gaze back?” Now, that’s a question.” Kekaguman yang sama antara membaca kutipan dalam film itu serta ucapan omku ‘Anak.. selamat ulang tahun, bantang na tala – nuwa na wulan.’ Bintang dan bulan sama-sama memantulkan cahaya dan sama-sama terlihat jelas pada malam hari bukan? Jadi saya bisa menafsirkan secara bebas bahwa om Tan ingin menyampaikan kepada saya bahwa dalam situasi hidup yang terasa gelap dan penuh tantangan pun harus ingat bahwa saya masih bisa melihat cahaya harapan yang dipantulkan bintang dan bulan.

‘Bantang na tala – nuwa na wulan’ adalah sebuah ungkapan yang ”anti mainstream” atau tidak suka ikut arus. Om Tan bisa saja merangkai kata-kata bijak atau menulis dalam bahasa Inggris ‘Happy Birthday’ namun ia memilih menggunakan ‘bantang  na tala – nuwa na wulan’ sebuah bahasa yang otentik dan menunjukan identitas. Perkembangan global saat ini seperti angin kencang dan kita seperti pohon yang tumbuh kalau akarnya tidak kuat maka akan tercabut dan tumbang namun kalau akarnya kuat pada adat dan budaya serta tradisi maka seribu badai pun tak sanggup menjatuhkannya. Di sini saya mengamini Jaroslav Pelikan yang  berkata “Tradisi adalah iman yang hidup dari orang yang telah meninggal (leluhur), tradisionalisme adalah iman yang mati dari yang hidup.”

Advertisements

8 thoughts on “Bantang na tala – Nuwa na wulan

Add yours

  1. Riung itu daerah mana, Bung? NTT? Bg sy yg dr luar, tentu msh asing; perlu pnjlsan. Maaf.

    Bersyukur ad org yg msh mengingatkan kita ttg asal muasal kita ya, spy tdk lp dg adat dan budaya tmpat kita berasal. Saya stuju dg psan2 demikian, sbab org yg lp dari mana ia berasal, bgtupun dg adat istiadatnya, menunjukkan ia tak tahu diri.

    Oya, slmat ulng tahun ya, Bung. Sy jg berdoa smoga Anda sehat, pnjang umur, sukses, dan diberkati sllu oleh Tuhan. Amin.

    Liked by 1 person

    1. Makasi banyak bro..
      Benar Riung itu di NTT tepatnya di pulau Flores.
      Ada taman wisata alam 17 Pulau yang banyak digandrungi turis asing pun lokal.

      Jika punya waktu bisa explore juga ya.. hehehhe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: