Mengapa Kita Harus Membaca?

[Esai ini pernah diterbit di floressastra.com]

Oleh Lee Risar

penting-membaca

Aku mengayunkan langkah agak cepat dari ruangan kuliah menuju perpustakaan yang letaknya tidak begitu jauh namun terpisah dengan ruang kuliah. Udara pantai yang panas siang ini membuatku sedikit gerah namun sudah menjadi hobiku setelah jam kuliah selesai selalu mampir di perpustakaan membaca buku-buku dan juga koran harian terutama koran nasional. Maklum anak kos tidak berlangganan koran karena uang belanja bulanan pun harus irit. Ada kealpaan tersendiri dalam otakku kalau tidak diisi dengan informasi-informasi aktual yang terjadi di tanah air. Informasi yang dominan di koran biasanya politik dan politisi yang korup seolah menjadi lagu lama yang diputar ulang.

Kadang aku menginginkan Indonesia kembali sebagai negara yang indah, jujur, adil  dan berbudaya serta berpegang teguh pada nilai-nilai luhur pancasila dan undang-undang. Telah kucoba mengirim opiniku pada surat kabar agar para politisi sadar bahwa kursi jabatan yang diberi oleh rakyat dijadikan tempat duduk untuk berdiskusi tentang bagaimana membangun kesejahteraan rakyat dan kebaikan bersama bukan untuk duduk empuk lalu berdiskusi tentang proyek-proyek rekayasa atau bagaimana menyejahterakan keluarga dan partai.

Mungkin kebanyakan mereka tidak membaca opini masyarakat kalaupun membaca barangkali dianggap sebagai tulisan jenaka sehingga tidak perlu digubris atau ditanggapi. Suara rakyat seperti lolong anjing di tengah hutan demokrasi yang tersesat oleh keinginan para pejabat yang korup.

***

Angin seolah memaksa daun-daun kuning dan kering serta beberapa bunga di ranting pohon bugenvil berjatuhan, saat aku memasuki pintu ruangan perpustakaan. Aku berjalan pelan dengan tidak menghentakkan kaki atau menggesek tapak kakiku mengingat aturannya memang demikian. Tulisan dua bahasa “jagalah ketenangan/keep silence” terpampang di bagian kanan dari jam dinding yang mengisyaratkanku agar selalu menjaga ketenangan selama berada di dalam perpustakaan.

Seperti biasa membaca koran atau buku-buku tidak terlalu banyak diminati oleh sebagian besar teman kampusku. Koran hanya dijamah oleh beberapa orang saja sedangkan buku-buku yang tersusun di rak kelihatan berdebu. Jumlah mahasiswa yang masuk perpustakaan begitu banyak namun di setiap meja baca mereka bercumbu dengan facebook dan beberapa akun jejaringan sosial atau video game di layar laptop atau HP mereka. Jelas tujuan mereka masuk perpustakaan hanya untuk mendapat koneksi wifi gratis semata. Kenyataan yang miris namun aku sengaja diam-diam saja karena pernah aku coba bilang secara halus pada seorang temanku agar jangan terlalu banyak menghabiskan waktu hanya untuk hal yang kurang berguna namun katanya “ini urusan pribadi, dilarang sibuk” dan jawabannya berhasil membuatku diam seribu bahasa. Ajakkan halusku pun pupus dan mungkin mengajarkanku untuk menjaga jarak antara spasi psikologi setiap orang.

Benar menurut penelitian baru-baru ini bahwa minimnya budaya membaca telah memposisikan Indonesia sebagai negara yang menempati peringkat buntut. Hal ini jelas seperti dilansir harian Kompas pada 28 April lalu. Menurut data yang dikeluarkan World’s Most Literate Nations, peringkat minat baca Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara. Peringkat ini merupakan hasil penelitian dari Central Conecticut State University tahun 2016.

Tentu realitas yang memprihatinkan ini bertitik tolak dari fenomena senada yang pernah dilansir UNESCO pada tahun 2012 yang menunjukkan bahwa index tingkat membaca orang Indonesia hanya mencapai 0,001. Artinya bahwa dari 1000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku secara serius. Bahkan, Indonesia berada di peringkat 38 dari 39 negara dalam tingkat ASEAN. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengakui, budaya membaca di Indonesia sampai saat ini masih sulit diterapkan. Jelas Anies, budaya membaca buku sampai saat ini masih rendah dan tertinggal jauh dari negara-negara lain.

Ah, sangat disayangkan. Memang inilah kenyataan yang tak dapat dipungkiri. Setelah aku membaca opini di koran lokal pun memiliki keluhan yang sama. Dapat diamini bahwa daya nalar dan kemampuan berlogika akan semakin diasah apabila budaya membaca terus mewarnai ruang gerak atau menjadi kebutuhan utama bagi para kaum intelektual. Namun membaca bukan sekadar mengikuti baris-baris kata, itu namanya hanya sekadar mengeja. Membaca ialah upaya memungut makna ikhtiar untuk memahami alam semesta. Itulah mengapa buku disebut jendela dunia, yang merangsang pikiran agar terus terbuka. Karena budaya membaca  prasyarat jadi bangsa yang hebat. Ada harapan yang besar dalam diriku bagi anak-anak Indonesia untuk giat membaca.

***

Aku pun meninggalkan perpustakaan dengan sebuah permenungan yang belum selesai. Deretan pertanyaan berbaris dalam sistem otakku tentang bagaimana meningkatkan minat baca bagi anak-anak sekolah terutama mahasiswa. Pernahkah mereka mendengar pernyataan Francis Bacon bahwa knowledge is power ? Bagaimana menjadi suatu bangsa yang hebat kalau minat baca rendah begini? Bukannya kita tidak ada kaum intelektual tetapi beberapa dari mereka cendrung menyendiri. Mereka seolah terjerembat dari masyarakat sosial (civil society) kepada sosial politik (political society).

Bergesernya peran kaum intelektual dari agen pencerahan menjadi pelanggeng hegemoni terjadi seiring dengan semakin kuatnya budaya patron di kalangan kelas terdidik yang tidak lain untuk kepentingan eksistensi diri, status dan akumulasi modal. Maka sebagai pelajar kita seharusnya sadar dan kita akan menjadi kaum intelektual yang membela kaum tertindas melawan penindas. Mengubah pola pikir apatis dan oportunis menuju pola pikir kritis-konstruktif dan kontributif. Kita mesti bisa berdiri dengan rakyat dan berjuang agar panggung kekuasaan berubah menjadi panggung pengabdian.

Ada harapan yang mekar berseri di dalam diriku bahwa akan muncul generasi baru yang rajin membaca dan generasi ini pula yang membentuk budaya baru budaya membaca yang tinggi. Bercerminlah pada negara-negara Eropa, Amerika dan Australia yang memiliki budaya baca yang tinggi. Namun yakinlah, mereka tidak serta-merta gemar membaca. Mula-mula mereka melihat ada manfaat dari membaca, ada rangsangan lalu mereka memburu bacaan. Percayalah kita pasti bisa!

Lee RisarAsal Wangka (Riung-Flores NTT) Kini sedang melanjutkan studinya di Melbourne – Australia.

Advertisements

27 thoughts on “Mengapa Kita Harus Membaca?

Add yours

  1. Benar, sebagian besar rakyat Indonesia tidak sadar telah dininabobookan berbagai tontonan yang kurang menjadi tuntunan. Dan karenanya rakyat lebih nikmat menonton daripada membaca.

    Like

    1. Iya Nur, terutama generasi baru sekarang hampir tidak melek baca. Sukanya online game atau terlalu adiktif terhadap sosial media. Semoga minat baca orang Indonesia semakin tinggi dari data-data sebelumnya yang pernah dirilis.. Makasi Nur sudah singgah sejenak di sini.. salam… 😀

      Liked by 1 person

    2. Amin ya ibu Nur…
      Thanks for your support… hahhah
      Oya asal Sulteng mana ibu?
      Karena saya sempat liburan di Palu dan mengunjungi wilayah sekitar itu… 😀 😀 ❤

      Liked by 1 person

    3. Saya ke Palu 2014 pas baru selsai kuliah..
      Saya pernah dengar tentang Luwuk tetapi belum sempat ke sana. Hanya jalan-jalan ke arah Parigi dan Poso. Lumayan jauh dari Palu tetapi pemandangannya luar biasa bagus… sepanjang pantai itu..
      I love it… ❤ ❤
      nanti kalau ada waktu rencana mau ke Palu lagi.. hahhah

      Liked by 1 person

    4. Great..
      Enak sekali mngajar.. karena pengetahuan disalurkan terus menerus.. dan membaca terus juga..

      I love teaching.. ❤

      Semoga suatu saat bisa ngajar kaya ibu Nur.. 😀

      Liked by 1 person

    5. Dukanya??? apa tuh? jadi pingin tahu ni.. hahhah

      Oya saya ambil ministry dan Theology skg Nur.. (saya ambil dua jurusan berbeda dan masing-masing S1 jadi kalau gabung semua S1 jadi S3 hahhah) mungkin setela slsai dua jurusan itu baru ambil S2 atau S3 di bidang lain.. tapi masih dalam tahap perncanaan saja.. (tapi saya punya ketakutan nanti kelamaan menikmati belajar di kampus sampai lupa kerja di lapangan hahhah)

      Liked by 1 person

    6. Dukanya banyak, terkadang kurang independen dalam memberikan nilai akhir kpd siswa, krn berbagai kepentingan, selain itu kondisi siswa sekarang yang lebih terpengaruh hal negatif dari perkembangan teknologi dsb
      Wah..jd dari lulus S1 d dalam negeri, ambil lagi S1 di australian ya? dobel lg, hebat!
      semoga sukses semua ya, kalau sdh banyak kompetensi pasti gampang nanti kerja di lapangan

      Like

    7. Terus terang sampai sekarang belum ada solusi yg tepat. Menurutku karena siswa saya adalah anak SMA, pada umumnya mereka berperilaku kurang baik (merokok, malas sekolah, pergaulan bebas dll) sdh mereka mulai sejak SMP, jd agak sulit diterapi setelah terbiasa sampai SMA. Menurutku gemblengan agama bisa mjd salah satu solusinya, tetapi di sekolahku kekurangan guru agama baik Islam maupun kristen
      Komunikasi dengan orang tua jg sdh, tetapi tdk banyak membuahkan hasil, karena pd umumnya orang tua jg sdh angkat tangan.
      Mungkin bang Lee bisa memberi masukan untuk kami?

      Liked by 1 person

    8. Saya juga kurang tau solusi tepatnya itu bagaimana namun saya bisa sharingkan pengalaman kerja saya dulu di salah satu Universitas di Canberra – Australia dengan para mahasiswa/i (Youth Ministry Support – ACU Canberra) dan pengalaman ketika menjadi pembicara di beberapa sekolah (SMP-SMA) di Australia.
      Hal utama yang saya lihat dalam diri para pemuda/i (Siswa/i dan Mahasiswa/i) adalah mereka ingin diperhatikan dan dicintai. Maka pendekatan yang selalu saya ambil adalah pendekatan cinta dan perhatian. Mereka memikul di dalam diri mereka suatu luka yang tidak kelihatan, entah luka karena tidak diperhatikan atau karena masalah di dalam rumah mereka bersama kakak adik dan orang tua terutama bapa (kepala keluarga). Kadang sampai di sekolah guru-guru tidak tahu kalau mereka sedang terluka lalu menambah luka baru lagi ketika guru-guru tidak memperhatikan mereka dan malah marah-marah (kekerasan verbal) kadang ada juga aksi kekerasan nonverbal (fisik).
      Ada dua kemungkinan di sini mungkin gurunya juga sedang terluka karena masalah keluarga (relasi atau ekonomi) yang belum diselesaikan di rumah dan memberi dampaknya di sekolah. Berikutnya adalah guru tidak tahu kalau anak didik juga sedang terluka. Maka di situasi seperti ini guru tidak tahu kalau anak didiknya sedang terluka dan dia tidak tahu juga kalau dia sedang terluka. (penjelasannya akan panjang jika saya mengupas semua secara komprehensif)
      Intinya adalah membuat pendekatan cinta dengan mereka seperti dengan pertanyaan sederhana (Apa kabar? dan diskusi dengan mereka layaknya teman. Tanya tentang situasi belajar di rumah). Pengalaman saya di Indonesia guru sering terkesan senioritas dan sering melihat siswa sebagai anak kecil bukan teman jika dibandingkan dengan system pendidikan di sini (Australia) tapi ada juga guru-guru tertentu di Indonesia yang begitu akrab dengan anak didiknya seperti salah satu guru saya di SMA dulu.
      Gemblengan Agama sekarang suda tidak jamannya lagi dan “bukan berarti tidak relevan” Tetapi ajaran agama akan menjadi sangat akurat saat pertama-tama kita melihat sesama (anak didik) dalam level cinta yang sama. Karena saat mereka merasa dicintai dan diperhatikan mereka akan dengan sendirinya mau berubah. Saya sangat percaya cinta selalu meluluhkan segalanya. Saya rasa sharing saya terlalu panjang ibu Nur.., nanti saya coba tulis artikel tentang ini… 😀 😀 ❤

      Liked by 1 person

    9. Wah…terimakasih banyak atas masukannya bang, Sangat bermanfaat.
      Sepertinya konsep itu benar dan pernah kami dengar, tetapi untuk memberikan cinta kasih kepada semua siswa dengan cara pendekatan personal memerlukan banyak waktu, sementara kami guru dituntut banyak jam masuk kelas dan tugas2 administrasi yang menyita banyak waktu. Belum lagi saat ada waktu luang si siswa sedang belajar di kelas yg tdk mungkin diganggu, atau kadang malah susah ditemui karena tdk hadir, Tapi bagaimanapun akan kami coba meskipun belum bisa untuk setiap siswa yang bermasalah
      Sekali lagi terimakasih ya bang Lee

      Like

    10. Well, kita saling mengisi dan memberi masukkan satu sama lain… Iya benar sekali saya bisa memahami bagaimna kesibukan guru dan saya bisa merasakan kesulitan itu saat membaca komentarmu.. Iya terus semangat ya… Guru adalah pahlawan cahaya bagi bangsa.. Seperti namamu yang artinya cahaya kan? (kalau tidak salah saat dulu saya belajar Islamologi di kampus)
      Saya akan mengingatmu dan tugas muliamu dalam doa-doaku..
      God Bless Nur..

      Liked by 1 person

    11. Terimakasih banyak bang Lee atas dukungannya anda, Benar arti nama saya adalah cahaya, smg sj bukan sekedar nama tp memberi makna di sekeliling saya. Aamiin..
      God bless you too

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: