Sastra dan Pendidikan Karakter

[Tulisan ini pernah terbit di koran Flores Pos]

Oleh Lee Risar

wp_20160614_014
Foto: Hardy Sungkang

Saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami suatu krisis besar yang menurut penulis hal ini sangat membahayakan masa depan generasi penerus bangsa ini. Krisis yang saya maksudkan bukan hanya dalam bidang ekonomi tetapi lebih dari itu adalah krisis dalam bidang pendidikan terutama pendidikan karakter. Bangsa Indonesia digelisahkan oleh maraknya aksi-aksi demoralisasi yang terjadi di berbagai masyarakat. seperti perkelahian, pembunuhan, kesenjangan sosial, ketidakadilan, perampokan, korupsi, pelecehan seksual, penipuan, fitnah terjadi di mana-mana. Persoalan seperti itu dapat diketahui lewat berbagai media cetak atau elektronik, seperti surat kabar, televisi atau  internet. Bahkan,  tidak jarang kondisi seperti itu dapat disaksikan secara langsung di tengah masyarakat.

Contoh nyata seperti yang dilansir Pos Kupang online, Minggu, 15 Mei 2016. “Dua Lagi Anak Di Nagekeo Jadi Korban Kekerasan Seksual.” Benar bahwa kejadian ini cukup ironi karena terjadi ketika DPRD Nagekeo sedang memproses Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Perlindungan Anak dan Ranperda Perlindungan Perempuan.

Dalam skala nasional masalah ini diberitakan media nasional seperti laporan Bambang Iman Aryanto seorang Staf Lemhannas RI dalam surat kabar nasional (Media Indonesia, 19 Mei 2016) Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, tercatat peningkatan jumlah kekerasan seksual pada anak tiap tahunnya. Sepanjang 2010-2014, terdapat 21 juta kasus kekerasan terhadap anak, sebanyak 58% kejahatan seksual pada anak seperti pelecehan dan pemerkosaan hingga yang mengakibatkan tewasnya korban. Sementara, Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dalam catatan 2016, diungkapkan jumlah laporan kekerasan terhadap perempuan yang termasuk pada ranah personal mencapai 321.752 kasus, 3166 kasus di antaranya merupakan kekerasan seksual. Sementara, pada ranah publik/komunitas terungkap sebanyak 5002 kasus kekerasan terhadap perempuan, yakni sebanyak 3174 kasus ialah kekerasan seksual. Diungkap pula, pelaku kekerasan seksual ialah lintas usia, termasuk anak-anak jadi pelaku.

Tentunya belum termasuk kasus lain yang suda atau sedang terjadi. Hal yang paling urgen dibutuhkan saat ini adalah perubahan menuju tatanan sosial yang lebih baik. Apa yang harus kita lakukan? Pastinya membenah aturan-aturan hukum sebagai payung pelindung masyarakat seperti Ranperda yang dilakukan pemerintah Nagekeo di atas. Namun lebih dari itu adalah kita membenah diri dengan memulainya dari dalam hati kita sendiri. Menyitir Santo Yohanes Paulus II “kita tidak bisa mengubah dunia sebelum kita mengubah hati kita sendiri.”

Melihat suburnya fenomena anomali sosial yang terjadi dan menguasai negeri ini seolah menghilangkan nilai-nilai peradaban, yang pada akhirnya menenggelamkan karakter asli bangsa ini yang telah lama diakreditasi sebagai bangsa yang cinta damai dan ramah serta beradab. Fenomena anomali sosial yang nampak seperti di atas tidak lahir begitu saja. Ia lahir di tengah situasi, di mana nilai-nilai moral dan peradaban bangsa tak lagi dipedulikan. Anomali sosial terjadi karena ketidakmampuan manusia untuk mengejawantahkan pengetahuan-pengetahuan yang baik dalam ranah kehidupan sosial.

Rusaknya moral bangsa kini tentu sangat mempengaruhi generasi penerus Indonesia yang memegang peranan penting dalam menentukan masa depan bangsa. Diperlukan paradigma baru untuk melahirkan generasi muda yang beragama, bermoral dan bernilai luhur baik dengan pendidikan kejiwaan yang berorientasi pada karakter bangsa. Menanggapi kondisi masyarakat yang demikian itu, menumbuhkan semangat penulis untuk memberanikan diri untuk menuangkan ide yang kiranya dapat membantu memulihkan kembali bangsa ini dari tindakan anomali sosial di atas. Dalam tulisan ini, penulis akan menawarkan suatu bentuk upaya alternatif  untuk mengatasinya. Solusi alternatif adalah meningkatkan peran sastra dalam pendidikan karakter dan hal ini bukan merupakan sesuatu yang sama sekali baru di negeri ini, melainkan sesuatu yang sudah ada sejak sebelum negeri ini merdeka atau setelahnya.

Sastra dan Pendidikan Nilai

Sastra memiliki peran sangat fundamental dalam pendidikan karakter. Ibarat api dengan panasnya, ibarat air dengan basahnya, dan ibarat kapas dengan kainnya. Hal ini disebabkan karya sastra pada dasarnya membicarakan berbagai nilai hidup dan kehidupan yang berkaitan langsung dengan pembentukkan karakter manusia. Sastra dalam pendidikan anak berperan mengembangkan bahasa, mengembangkan kognitif, afektif, psikomotorik, mengembangkan kepribadian, dan mengembangkan pribadi sosial.

Upaya alternatif  untuk meningkatkan peranan sastra dalam pendidikan karakter yang dimaksudkan di sini berkaca pada pemikiran Martha C. Nussbaum. Dalam Not For Profit : Why Democracy Needs The Humanities, 2010: Princeton University Press. Nussbaum menegaskan pentingnya pendidikan sastra dalam pembentukan karakter dengan menekankan pendidikan imajinasi dan simpati agar terwujudnya bangsa yang menghayati nilai-nilai seperti kebebasan kesetaraan, penghormatan akan martabat dan hak asasi manusia, keadilan, toleransi atas kemajemukan, menghargai perbedaan, permusyawaratan demi suatu konsensus, tanggung jawab dan menghidupkan budaya malu. Dalam artikel “Pendidikan Untuk Kewarganegaraan Yang Demokratis” Nussbaum juga mengungkapkan kepeduliannya terhadap persoalan keadilan sosial. Karena itu, secara tulus ia mengaitkan secara erat pendidikan demokrasi dengan pengolahan emosi dan imajinasi. Ia mengambil contoh tragedi Athena kuno yaitu bagian penutup dari The Trojan Women gubahan Euripides. Dalam lakon dalam ceritera ini mengajukan klaim tentang penilaian moral menyangkut bela rasa imajinatif.

Di negeri kita ada juga karya sastra seperti cerita rakyat ”Bawang Putih Bawang Merah” mengandung nilai pendidikan tentang kemanusiaan. Cerita binatang ”Kancil” juga mengandung pendidikan tentang harga diri, sikap kritis, dan protes sosial. Sementara itu, bentuk puisi seperti pepatah,  pantun, dan bidal penuh dengan nilai pendidikan.

Sastra merupakan salah satu media pendidikan kejiwaan. Sastra tidak hanya berbicara tetapi menyuratkan juga menyiratkan berjuta pesan. Sastra mampu mengungkapkan banyak hal dari segala aspek kehidupan, religius, estetika, humanisme, dan banyak aspek lainnya. Oleh karena itu perlu pengoptimalan peran sastra. Sastra dapat dilihat dari berbagai aspek. Dari aspek isi, jelas bahwa karya sastra sebagai karya imajinatif tidak lepas dari realitas. Karya sastra merupakan cermin zaman. Berbagai hal yang terjadi pada suatu waktu, baik positif maupun negatif  direspon oleh pengarang. Dalam proses penciptaannya, pengarang akan melihat fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat itu  secara kritis,  kemudian mereka mengungkapkannya dalam bentuk yang imajinatif.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa sastra sangat relevan dengan pendidikan karakter. Karya sastra sarat dengan nilai-nilai pendidikan akhlak seperti dikehendaki dalam pendidikan karakter.  Peran sastra dalam pembentukan  karakter  bangsa tidak hanya didasarkan pada nilai yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran sastra  yang bersifat apresiatif pun sarat dengan pendidikan karakter. Kegiatan membaca, mendengarkan, dan menonton karya sastra pada hakikatnya menanamkan  karakter tekun, berpikir kritis, dan berwawasan luas. Pada saat yang bersamaan dikembangkan kepekaan perasaan sehingga pembaca cenderung cinta kepada kebaikan dan membela kebenaran.

Konkritnya saat ini Nusa Tenggara Timur (NTT) telah melahirkan banyak sastrawan/ti muda mengikuti jejak mereka yang terdahulu. Hal ini tentunya merupakan suatu kebanggaan tersendiri untuk saya secara pribadi sebagai anak Indonesia asal NTT. Mereka (baca; sastrawan/ti NTT) menjadi ‘media’ pembentuk karakter bangsa Indonesia melalui karya-karya yang dihasilkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: